Kontribusi Medsos Untuk Bangsa

Kehidupan masyarakat, bangsa dan negara kita sudah begitu lama terusik akibat perilaku tidak bertanggung jawab sebagian kecil pengguna media social (medsos) yang sengaja menggunakan sarana komunikasi ini untuk kepentingan-kepentingan yang tidak benar. Beberapa peristiwa terjadi di negeri ini seperti fitnah, saling hujat antara satu dengan lain, menyebarkan kebencian karena perbedaan pandangan maupun sikap, membangun sentiman ras, suku, agama, dan perbedaan antar golongan—kejadian-kejadian tersebut seakan lumrah dalam moda komunikasi dan interaksi masyarakat melalui medsos baik melalui facebook, twitter, instagram, youtube, dan sejenisnya.

Keresahan publik atas konten-konten medsos termasuk bermuatan ghibah (membicarakan keburukan/aib orang lain), bullying, namimah (adu domba) menyebar konten pornografi, ditambah dengan masifnya penyebaran hoax alias berita palsu, fake news—membuat pemerintah harus bersikap tegas. Presiden Republik Indonesia Jokowi pada suatu kesempatan memberi pandangan akan kondisi medsos hari ini. Kata Jokowi coba kita lihat sekarang buka media social yang saling menghujat, saling mengejek dan saling menjelekkan.

Kekhawatiran Jokowi cukup beralasan. Sebagai Presiden, beliau memahami betul betapa berbahayanya situasi negara yang penuh dengan kebhinekaan ini jika permusuhan, perpecahan, dan tidak bersatunya bangsa ini terus digelorakan di medsos yang memiliki pengaruh besar di masyarakat. Dengan adanya kekuatan internet dan tingkat pengguna medsos yang tinggi di Indonesia, produksi maupun penyebaran konten medsos yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945, semangat terbentuknya NKRI—jelas akan membawa situasi negara pada keadaan tidak menentu seperti kerawanan sosial, konflik horizontal dan lain sebagainya.

Data dilansir Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) hasil survei tahun 2016 saja pengguna ponsel pintar dalam menggunakan browsing melalui internet di Indonesia kini telah mencapai 89,9 juta orang. Itu artinya kurang lebih seperempat penduduk di Indonesia memiliki akses media baru. Sementara itu Nielsen.com baru-baru ini melansir data lima besar jejaring social di smartphone, pertama, Facebook 178, 8 juta, kedua, Instagram 91, 5 juta, ketiga, Twitter 82, 2 juta, keempat, Pinterest 69,6 juta, kelima, Linkedin 60, 1 juta. Wajar jika kemudian Indonesia menempati peringkat 5 pengguna Twitter terbesar dunia setelah USA, Brazil, Jepang dan Inggris. Bahkan menurut data Webershandwick di Indonesia sekitar 65 juta pengguna Facebook aktif

 

 

 

Tingginya pengguna internet, ponsel pintar serta medsos jelas memberi keprihatinan bersama. Persoalan medsos menyangkut persoalan kehidupan bangsa, negara,  dan bahkan keagamaan yang telah menimbulkan kerawanan masyarakat Indonesia yang majemuk dan plural. Tidak heran jika masyarakat mengapresiasi dan mengawal bersama fatwa MUI Nomor 24 tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah melalui Media Sosial. Ketua Umum MUI KH. Ma’ruf Amien sangat mengkhawatirkan adanya ujaran kebencian dan permusuhan melalui medsos.

Esensi Medsos

Fatwa MUI ini menurut penulis sangat tepat. Di saat eufori kebebasan menyampaikan pandangan termasuk perasaan menggunakan media secara bebas apalagi di medsos begitu marak, fatwa MUI mengetuk kesadaran logika publik bahwa meskipun saat ini merupakan era kebebasan namun kebebasan bermedia seharusnya ada batasannya dan dapat dipertanggung jawabkan berdasarkan aturan yang ada, etika publik, dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Bebas boleh tapi jangan bablas. Tidak semua perasaan, kehendak, maupun pikiran dirasakan dituangkan di medsos. Ketika ide atau gagasan anda torehkan di medsos itu tidak lagi menjadi persoalan pribadi tetapi telah menjadi persoalan publik. Seorang semolog Prancis, Roland Barthes berujar ketika seseorang menuliskan sebuah ide/teks maka dengan sendirinya penulis akan terputus dengan teksnya. Ini artinya ketika gagasan ditulis maka ide itu tidak lagi menjadi milik pribadi melainkan milik publik, lebih-lebih jika gagasan dituliskan di medsos, dimana banyak masyarakat mengakses ruang ini.

Secara subtansi hal ini penting diketahui masyarakat pengguna medsos. Konten yang tidak mendidik dari medsos akan dengan cepat menyebar di masyarakat karena diviralkan. Tentu dampak social ditimbulkan medsos ini menjadi luar biasa. Telah banyak contoh yang kita saksikan di masyarakat bagaimana medsos itu mempengaruhi kehidupan publik. Ingat kasus koin Prita, informasi jumlah tenaga kerja China yang masuk ke Indonesia, informasi tentang Ahok, dan lain-lain.

D.W. Rajecki, dalam bukunya  Attitute, themes and Advence, (1982) ada 3 (tiga)  komponen yang mempengaruhi opini publik, antara lain yang pertama Affect (perasaan atau emosi). Komponen ini berkaitan dengan rasa senang, suka, sayang, takut, benci, sedih, dan kebanggan hingga muak atau bosan terhadap sesuatu, sebagai akibat setelah merasakannya atau timbul setelah melihat dan mendengarkannya. Kedua behaviour (tingkah laku). Komponen ini lebih menampilkan tingkahlaku atau perilaku seseorang baik menerima maupun menolak. Komponen yang terakhir adalah cognition (pengertian atau nalar). Komponen kognisi ini berkaitan dengan penalaran seseorang untuk menilai suatu informasi, pesan fakta dan pengertian yang berkaitan dengan pendiriannya. Komponen ini menghasilkan penilaian atau pengertian dari seseorang berdasarkan rasio atau kemampuan penalarannya.

Pengaruh medsos begitu besar sebaiknya diarahkan pada hal-hal positif untuk kepentingan bangsa. Sebab esensi keberadaan medsos untuk kepentingan dan menjaga ruang bersama. Ruang publik demokrasi membutuhkan kontribusi dan peran pengguna medsos untuk menjaga dan merawatnya dengan mengisi medsos dengan konten-konten edukatif, mendidik, inspiratif, merawat kebhinekaan, mempertahankan persatuan dan kesatuan serta menjaga Pancasila demi keutuhan bangsa. Ini yang kita harapkan bersama.