Relevansi Konten Impor di Ranah Pendidikan

Jakarta – Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Yuliandre Darwis mengatakan fenomena media baru yang kini tengah hadir di masyrakat memnag sangat menarik untuk di simak. Dari berbagai kalangan menilai munculnya media baru ini, akan segera membuat pensiun para pekerja media konvensional, walau banyak juga yang berpandangan media baru ini tidak mempengaruhi media-media konvensional seperti hal media massa cetak.

“Memahami media baru tanpa memahami pengertiannya terlebih dahulu tentu bukan langkah yang tepat. Oleh karena itu kita perlu memahami apa itu media baru. Internet membawa sebuah perubahan pada perkembangan media. Munculnya internet dan media sosial, membuat suatu perubahan pada pola kehidupan manusia,” kata Yuliandre Darwis saat menjadi pemateri dalam diskusi berbasis online dengan tema “Optimalisasi Pendidikan Di Media Penyiaran” di Jakarta (14/5).

Andre sapaan akrabnya menekankan bahwa Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran belum secara spesifik menyebutkan wewenang Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam pengawasan konten untuk platform seperti YouTube atau Netflix. "Ini artinya, kalaupun KPI diberikan ruang untuk pengawasan, harus dinyatakan dalam Undang-Undang Penyiaran. Saat ini kan sedang dalam proses oleh DPR RI,” ucap Andre

Yuliandre meyakini media massa konvensional sedikit demi sedikit sudah mulai digeser peranannya oleh media baru. Tak terasa pergeseran media massa berkembang begitu cepat, komunikasi massa terasa semakin canggih dan kompleks. Dari surat kabar, radio, televisi, hingga kini portal berita online.

Pernah menjabat sebagai Presiden OIC Broadcasting Regulatory Authorities Forum (IBRAF) periode 2017 - 2018, Andre berharap Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat maupun daerah pun bertekad untuk memperbaiki kualitas tayangan konten di media penyiaran Indonesia. Upaya itu salah satunya diwujudkan dengan melakukan Survei Indeks Kualitas Program Siaran Televisi. Survei ini dilakukan oleh para ahli media yang berasal dari 12 perguruan tinggi di Indonesia.

"Sehingga survei indeks yang kami lakukan setiap tahun, dengan bekerja sama dengan para ahli untuk menetapkan batas-batas atau indeks maksimal yang harus dicapai oleh televisi berkaitan dengan kualitas tayangan. Tidak hanya rating, namun bobot kontennya pun tak luput dari penilaian,” katanya

Dalam kesempatan itu pula, Andre menyoroti akan begitu santernya konten asing pada tayangan anak di Indonesia. Ia melihat dari sisi regulasi, UU Penyiaran mengatur bahwa isi siaran harus memajukan kebudayaan nasional.

Selain itu, tambah Andre, Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standart Program siaran (P3SPS) Tahun 2012 pasal 67 Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat ditegaskan bahwa, Program siaran asing dapat disiarkan dengan ketentuan tidak melebihi 30 persen dari waktu siaran per hari.

Dalam kesempatan yang sama, pengamat media, Hariqo menuturkan pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media.

“Tujuan pembelajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa kuasai setelah pembelajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa,” ucap Hariqo

Keberagaman pendekatan pendidikan akan menghasilkan berbagai macam teknik dan inovasi yang berbeda untuk setiap daerah, sekolah, maupun siswanya. Menurut Hariqo, semua itu hanya bisa dilakukan secara maksimal dengan adanya dukungan teknologi yang mumpuni.

“Teknologi ini bukan semuanya online melainkan bisa macam-macam. Begitu pula dengan menggunakan TVRI sebagai media pembelajaran. Jadi semua yang kita sebutkan teknologi akan digunakan dalam mengimplementasi belajar dari rumah,” terangnya.