Stimulus Dunia Pendidikan

Jakarta – Komisioner Komisi Penyiaran Indoensia (KPI) Pusat, Yuliandre Darwis mengatakan era pandemic Covid-19 menuntut perubahan kebiasan belajar mengajar yang fleksibel dan tenaga kependidikan harus memiliki kemampuan teknologi digital dengan pendekatan baru yakni metode maupun substansi. 

“Sebagai akademisi dalam kondisi seperti ini menuntut perubahan sistem dan kebiasaan. Siapa pun manusianya, perilaku daring ini harus dibiasakan,” kata Yuliandre saat menjadi narasumber dalam sebuah diskusi berbasi daring yang diselenggarakan oleh abiadi.com dengan tema “Kuliah Zaman Now” di Jakarta (15/9/2020). 

Sebagai Dewan Pakar Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Pusat, Andre sapaan akrabnya menekankan adanya peningkatan kreatifitas dalam proses belajar mengajar. Saat ini, godaan peserta didik yang diharuskan menggunakan telpon pintar atau gadget tentu tidak sedikit, disinalah para tenaga pengajar untuk dapat menghadirkan inovasi baru agar peserta didik dapat menyimak bahan ajaran dengan baik. 

“Perubahan sistem belajar ini menuntut para pengajar untuk lebih menghadirkan warna dalam kelas. Kekuatan kreatif juga harus masuk ke tenga pendidik. Tidak kreatif maka proses belajar akan monoton.” ungkap Yuliandre. 

Pada hakikatnya, tambah Andre baik dalam dunia pendidikan kekuatan ide dan gagasan adalah upaya dimana saat ini zaman telah menunjukan siapa yang memiliki karya hampir bisa dipastikan akan menang. Andre mengatakan era keterbukaan media saat ini membuka peluang untuk siapa saja baik pelajar, mahasiswa dan lainnya untuk bersaing sehingga dapat menerima pandangan atau kebiasaan baru. 

“Jangan pernah takut untuk melangkah, zaman telah menuntut kita untuk hadir dengan karya. Kekuatan yang bisa kita lakukan adalah dengan kreatif, ikhlas dengan situasi sehingga memiliki gagasan dan ide yang cemerlang,” tegas Andre