Dorong Industri Kreatif dengan Cerita Budaya Dalam Negeri

Jakarta – Indusstri perfilman di masa pandemic ini seharusnya menjadi potensi untuk menggerakan peluang ekonomi kreatif. Keunikan yang luar biasa dari hal yang dilakukan sehari-hari jika dikemas dengan baik maka menjadi solusi dan model bisnis baru.

Dalam hal ini Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Yuliandre Darwis menuturkan pada dasarnya kekuatan film itu adalah mengantarkan isi yang memiliki pesan terhadap apa yang diceritakan. Ia menggambarkan bagaimana dengan pesatnya industri perfilman Korea Selatan dengan isu dan tema kearifan lokalnya.

“Sebenarnya dalam industri film itu yang menarik adalah jalan ceritanya, budaya yang diaplikasikan dalam peran dan setting gambar,” kata Yuliandre saat menjadi pembicara dalam diskusi berbasi daring yang di selenggarakan oleh Critical Circle dengan tema “Cinema Analysis Tilik” di Jakarta (4/9/2020).

Perkembangan imajenasi seorang pembuatan naskah menjadi hal yang sangat vital dalam industri film. Melihat fenomena ini, pria yang akrab di sapa Andre ini merasakan betul kebanyakan film di Indonesia lahir dari unsur novel. Padahal, warna warni budaya yang ada di Indonesia dapat diserap dengan dijadikan objek untuk membuat narasi cerita film.

“Tentu saja sebuah karya itu akan memiliki nilai jual yang tinggi terlahir bukan saja dari novel atau dari karya yang sudah ada sebelumnya, saat ini era kreatif. Bukan mengadopsi,” ucap pria yang pernah menjabat sebagai Presiden International Broadcasting Regulathory Authority Forum (IBRAF) periode 2017-2018.

Di era pandemi disrupsi pentonton telah terjadi. Masyarakat luas pada umumnya membutuhkan adalah konten menarik dan berbeda, seperti halnya film “Tilik“ ini. Yuliandre mengatakan hal yang kreatif itu memiliki arti biaya rendah namun memiliki daya tarik yang besar.

“Bagaimana dalam film Tilik mengantarkan segmen yang menarik. Saya berharap hal yang kreatif ini didukung, tidak harus dengan modal yang besar, karena karya seni itu bermodal percaya diri, bukan bangga dari copy paste,” ungkap Yuliandre.