Proteksi Jitu Pelaku UMKM dan Pekerja Saat Pandemi Covid-19.

Jakarta – Sektor pekekerja dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengalami dampak cukup dalam akibat pandemi Covid-19. Perilaku ini disebabkan adanya penurunan jumlah pembeli dan berubahnya frekuensi belanja masyarakat. Problematika tenaga kerja and UMKM yang terdapak pandemi Covid-19 merubah siklus dan iklim ekonomi. Padahal ekosistem dan siklus pekerja baik penerima upah langsung mapun pun tidak langsung secara gotong royong turut memberikan andil besar dalam menggerakan gerbong perekonomian bangsa.

Dalam hal ini, Sahabat Pekerja Indonesia (SPI) ingin mendengarkan pandangan dari sisi pemerintah maupun praktisi ketenagakerjaan untuk menyikapi dan membedah apa yang sebenarya terjadi sekaligus hal-hal apa saja yang harus di lakukan sekarang hingga masa depan.

Acara webinar yang di selenggarakan berbasis daring ini yang di saksikan langsung dari sahabat pekerja yang ada di beberapa negara, seperti Hong Kong, Malaysia dan negara lainnya. Acara yang langsung di pandu oleh Ketua Dewan Pembina Sahabat Pekerja Indonesia, Yuliandre Darwis ini menarik untuk di cermati sebagai bahan data untuk kehidupan di fase new normal.  

Kasubdit Perjanjian Kerja Kementerian Ketenagakerjaan, Retna Pratiwi mengungkapkan masa pandemi Covid-19 ini menuntut setiap manusia untuk belajar. Peran pemerintah saat Covid-19 ini membarikan bantuan keringanan di sector keuangan.

Hal ini Strategi Pemerintah dalam Melindungi Pekerja pada masa Pandemi Covid-19, pemerintah melakukan Pencegahan PHK Massal dengan mengeluarkan Surat Edaran Menaker Nomor M/3/HK.04/III/2020, tentang Perlindungan Pekerja/Buruh dan Kelangsungan Usaha dalam rangka Pencegahan dan Penanggulangan Covid-19 dan membuka layanan informasi konsultasi dan pengaduan bagi Pekerja/Buruh dengan inovasi Pelayanan Tanpa Kontak Fisik  (LAPAK ASIK) BPJS Ketenagakerjaan

“Kami melihat dengan adanya kondisi pandemic ini sangat di perlukan untuk masa depan. Pemerintah mendukung dari sektor UMKM untuk turun langsung ke lapangan bersama BPJS Ketenagakerjaan mengecekkeberlangusngan Prioritas Kartu Pra-Kerja bagi korban ter-PHK dan dirumahkan,” katanya saat menjadi pembicara diskusi webinar dengan tema “Advokasi UMKM dan Pekerja Menghadapi Pandemi Covid-19” di Jakarta, Sabtu (8/8/2020).

Dalam kesempatan itu pula, Direktur Perencanaan Strategis dan Teknologi Informasi BPJS Ketenagakerjaan, Sumarjono mengungkapkan dengan meningkatkan status Covid-19 sebagai pandemi global, maka akan ada konsekuensi politik dan ekonomi.

Sumarjono menegaskan hal ini dapat mengguncang pasar global yang saat ini sedang rapuh dengan pembatasan perjalanan dan perdagangan yang lebih ketat. UMKM memberikan lapangan kerja sebanyak 116.978.631 orang atau mencapai 97% dari total tenaga kerja Indonesia

Menurut Sumarjono, bedasarkan data dari Kementerian Koperasi dan UMKM RI sekitar 37.000 UMKM terdampak sangat serius dengan adanya pandemi dimana 56% terjadi penurunan penjualan, 22% kendala aspek pembiayaan, 15% kendala distribusi barang dan 5% kesulitan mendapatkan bahan baku mentah.

“Sebuah penting ada kewajiban sifatya untuk menajdi peserta bagi mereka yang sudah menjadi peserta dan gajinya kurang 5 juta maka BPJS Ketenagakerjaan dan Kementerian Ketenagakerjaan akan berkoordinasi lebih lanjut terkait dengan merekomendasikan pekerja yang menerima upah di bawah 5 juta untuk dapat mendapatkan bantuan,” katanya

Sumarjono menekankan bahwa kolaborasi BPJS Ketenagakerjaan dengan mitra strategis Peningkatan partnership BPJS Ketenagakerjaan dengan Badan, Lembaga, Perbankan, Fintech (financial technology) atau organisasi kelompok tertentu yang di desain dengan rangkaian program pengembangan aktivitas ekonomi meliputi partisipasi kemitraan, dukungan permodalan, pembinaan dan sosialisasi serta strategis pengelolaan pengembangan usaha.

Salah satu pekerjaan yang juga terdapmpak dari adanya pandemi Covid-19 ini ialah pekerja seni. Mantan Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI), Marcella Zalianty mengatakan sekalipun sudah mulai memasuki babak new normal, namun kegiatan di industri hiburan masih belum bisa dikatakan normal seperti sebelumnya. Bahkan masih jauh dari indikator normal sebelum pandemi ini menyelimuti ke penjuru dunia.

Menurut Marcella Berdasarkan hasil pendataan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kementrian Kebudayaan, sudah ada 226.586 seniman dan pekerja kreatif terdampak pandemic Covid-19. Faktor keberlangsungan hidup masa pandemi pekerja seni diantaranya sarana dan lapangan pekerjaan yang kurang, contoh internet gratis, dedikasikan 10% (atau lebih) anggaran belanja pemerintah dan swasta untuk industri kreatif sangat diharapkan oleh para pekerja seni saat ini.

Dalam kesempatan itu Marcella menegaskan bahwa pekerjaan inti dari pekerjaan dari seorang pekerja seni adalah menghibur. Lebih dari sekedar memberi hiburan ditengah bencana ini sebagai kontribusi juga kepada bangsa adalah mendidik dengan cara yang menghibur. “Kreatifitas seni dan hiburan memberi makna pada kehidupan. tanpa hiburan, manusia bukanlah manusia, melainkan robot semata,” tegas Marcella