Optimisme Potensi Ekonomi Digital Saat New Normal

Jakarta – Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Yuliandre Dariws mengatakan kondisi ekonomi saat ini berbeda dengan sebelum pandemi menyerang. Beberapa penyesuaian dilakukan seperti dengan tetap mengutamakan protokol kesehatan atau sering disebut dengan normal baru. 

Merajuk data Dana Moneter Internasional (IMF), Yuliandre mengungkapkan perekonomian dunia akan mengalami krisis keuangan terburuk dan diproyeksi bakal mengalami kontraksi hingga 3 persen pada 2020.

“Situasi pandemi ini membuat turbulensi pada tatanan seluruh elemen ekonomi dunia, berdampak sangat dashyat, krisis global secara menyeluruh hampir melumpuhkan ekonomi dunia,” kata Yuliandre saat menjadi pembicara dalam diskusi bersifat daring dengan tema “Spirit Komunikasi Bisnis IT di Era New Norma” yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Maarif di Ciamis, Jawa Barat (22/6).

Acara yang dibuka langsung oleh Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Maarif, Ciamis, Dr. H. Jamiludin Hidayat. Dalam sambutannya, Jamiludin mengatakan adaptasi kebiasaan baru merupakan cara merubah perilaku, gaya hidup, dan kebiasan. Keadaan dimana ketika PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) mulai dilonggarkan, protokol kesehatan tetap dilakukan sehingga masyarakat tetap bisa produktif dengan tetap mencegah terjangkit virus corona ini.

“Dewasa ini masing-masing daerah harus berjibaku untuk mengambil langkah penyesuaian terhadap situasi pandemi Covid-19. Sejumlah persiapan dilakukan untuk menuju tatanan kehidupan baru atau New Normal,” tutur Hidayat

Dalam kesempatan itu, Yuliandre menegaskan saat masa pandemic Covid-19 kebutuhan masyarakat pada umumnya akan bertambah. Pria yang akrab dengan sapaan akrabnya, Andre memastikan bahwa adanya kebutuhan manusia yang baru, yaitu jaringan internet yang cepat dan daya tahan batrai ponsel pintarnya. “Internet saat ini menjadi kebutuhan ditengah era normal baru. Penetrasi dunia IT saat ini mendadak naik.” ungkap Andre.

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Periode 2016-2019 ini mengungkapkan, ada beberapa hal penting yang bisa dilakukan untuk kembali membangun dan mempertahankan bisnis saat memasuki tatanan normal baru. Peluang ekonomi digital yang lahir sebagai wujud dari revolusi industri 4.0 ini diyakini mendapatkan tempat yang luar biasa saat pandemi Covid-19.

Pembatasan interaksi fisik antar manusia menyebabkan berbagai bentuk transaksi ekonomi dilakukan secara jarak jauh atau daring dengan memanfaatkan teknologi digital.

“Penggunaan teknologi digital akan memperbaiki proses produksi dan meningkatkan efisiensi. Bisnis era baru adalah peluang bagi masa kini maupun masa mendatang. Jika berjalan lancar, komunikasi bisnis era baru ini menawarkan efektifitas luar biasa,” katanya

Lebih lanjut, Andre mengungkapkan adanya pola strategi dalam komunikasi bisnis di era digital ini. Dengan strategi komunikasi bisnis yang tepat, bisnis di era tatanan baru ini akan terus berjalan, bahkan akan lebih produktif dibanding di fase sebelumnya. “Dengan meunjukan kepedulian hingga membuka pasar lewat banyak saluran digital untuk menikmati semua manfaat pemasaran multichannel tanpa berinvestasi di tim yang lebih besar,” pungkas Andre.