Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Tatanan Penyiaran yang Baik

Jakarta – Seiring dengan peningkatan jumlah kasus positif corona virus disease 2019 (COVID-19) di Indonesia yang sudah merebak sejak Februari 2020, Pemerintah pusat pun telah menginstruksikan agar masyarakat Indonesia untuk disiplin bekerja, belajar dan beribadah dari rumah. Bersamaan dengan pernyataan tersebut, gerakan "Di Rumah Aja" juga tiada henti disuarakan melalui berbagai platform digital.

Memiliki pengalaman sebagai Ketua Lembaga Negara temuda di usia 36 tahun, Yuliandre berhasil menduduki pucuk pimpinan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Periode 2016-2019. Yuliandre Darwis mengatakan regulasi penyiaran sebagai sesuatu garis batas di tengah kehidupan masyarakat Indonesia dianggap perlu mendapat pengawasan dan pembinaan.

Kebebasan yang diberikan bukan berarti kebebasan yang tak bertanggung jawab dan lepas kendali. Untuk itu kepemimpinan dalam sebuah aturan penyiaran yang ada perlu menetapkan suatu regulasi dan pedoman etika untuk mengontrol perilaku pers tanpa membatasi kebebasan dunia penyiaran.

“Melalui mekanisme aturan yang jelas dan terukur, setidaknya ranah penyiaran memiliki pagar dan batasan dalam berkreasi. Kepemimpinan di tengah era yang menuntu kreativitas tidaklah mudah, perlu melakukan adanya control detail terhadap institusi penyiaran Indonesia,” tutur Yuliandre saat menjadi Narasumber dalam diskusi yang di selenggarakan secara virtual oleh Rumah Milenials dengan tema “Leadership In Brodcasting Industry What, How, and Why” di Jakarta (22/4/2020).

Andre sapaan akrabnya yang saat ini kembali diberikan amanah oleh masyarakat dalam hal ini Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) sebagai Komisioner Bidang Kelembagan KPI Pusat periode 2019-2022 ini menegaskan KPI sebagai representasi publik terhadap urusan penyiaran memiliki tugas untuk selalu menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap media penyiaran.

Di samping itu, Andre menilai sesungguhnya upaya KPI untuk menyehatkan ranah penyiaran belum mendapatkan hasil yang maksimal. Ini dapat dirasakan dengan kebebasan bisnis media yang berkembang tanpa kendali membuat ranah penyiaran kehilangan asas keadilan, pemerataan, etika, sekaligus keberagaman.

Andre mengatakan regulasi yang ada tidak mengarahkan sesorang atau komunitas untuk berhenti berkreatifitas. Transformasi pemahaman yang kebanyakan orang saat ini ialah regulasi KPI untuk media mainstream bukan ke arah mematikan industry kreatif.

“Media mainstream harus memainkan fungsi sebagai akses masyarakat menerima informasi yang berbobot, menghibur dan sebagai control sosial melihat fungsi hiburan di ranah penyiaran masih sangat dominan,” ucap Andre.

Pernah menjabat sebagai Presiden OIC Broadcasting Regulatory Authorities Forum (IBRAF) periode 2017-2018, Yuliandre menghimbau bahwa kesamaan gagasan antara regulator dan Lembaga penyiaran sepatutnya dapat berkontribusi lebih mengedukasi masyarakat dalam mengahadapi krisis Covid-19 ini.

Yuliandre mengatakan dinamika yang menjadi tantangan penyiaran saat ini yang terbesar yaitu kehadiran media baru. Permasalahan yang ada dengan hadirnya media baru di karenakan regulasi atau aturan yang belum mengikat. Keberadaaan media baru ini dengan platform internet, namun merangsek masuk ke ranah penyiaran Indonesia.

“Tumbuh kembang media baru hari ini itu adalah bagian dari definisi penyiaran, platform media baru saat ini masuk ke ranah penyiaran kita. Kehadiran media baru yang tumbuh dari luar Indonesia, KPI bukan membatasi, namun mengatur sistem ekonomi yaitu hak dari pemasukan negara,” ujar Andre

Dalam kesempatan yang sama, Chief Executive Officer (CEO) PT Media Nusantara Citra MNC Tbk, David Audy mengatakan sebagai perusahaan media wajib kiranya bertanggung jawab tentang tayangan sesuai aturan yang ada. Ia menegaskan bahwa media penyiaran nasional sudah paham betul akan adanya kaidah aturan penyiaran yang di keluarkan oleh KPI yang bernama Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Progam Siaran (P3SPS).

“Tentunya saat ini banyak media mainstream menjadi pilihan masyarakat kita. Ini jelas, saya mencontohkan dalam tayangan berita. Media national dalam hal ini media yang terferivikasi oleh KPI dan Dewan Pers sangat menjunjung tinggi keaslian sumber berita,” tegas Audy.

Dalam hal kepemimpinan, Audy mengatakan ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk memimpin Perusahaan atau lembaga lainnya. Ia menceritakan perlu adanya jiwa kemampuan untuk dapat mengatur sejumlah orang dengan masing-masing karakter. Disamping itu, dunia media adalah wadahnya kreativitas, dimana para pekerjanya mampu menjalankan strategi dan memiliki manajemen waktu yang teratur.

“Berkaca dari perusahaan yang saya pimpin, menjadi pemimpin itu tidaklah mudah. Perlu adanya teamwork yang tepat. Bagaimana kita bisa mengatur sejumlah karyawan, memiliki kemampuan untuk negosioasi,” kata Audy.