Imajinasi adalah Kunci Revolusi Industri 4.0

Jakarta - Indonesia saat ini telah memasuki era Revolusi Industri 4.0. Hal ini ditandai dengan meningkatnya digitalisasi di segala bidang, salah satunya di dunia penyiaran.

“Hari ini, dunia penyiaran kita sudah mulai memasuki era digital. Di Amerika misalnya, regulator penyiaran Amerika atau FCC sudah menyiapkan regulasi TV Digital. Jadi TV digital memberikan dampak menonton akan lebih clear, lebih jernih, dan tidak perlu pakai antena lagi. Salurannya sudah langsung tertangkap di TV Digial”. Hal ini disampaikan Yuliandre Darwis, Komisioner KPI Pusat 2019-2022 di Dialog Kepemudaan PPI Se-Dunia yang diselenggarakan di Gedung A Kemendikbud RI (08/02). Ia juga menambahkan, UU Penyiaran yang baru juga seharusnya bisa cepat diketuk mengingat urgensi revolusi industri sekarang.

Dalam era revolusi industri ini, dampak yang ditimbulkan juga cukup banyak. Kreativitas diperlukan untuk bertahan di era yang cukup kompleks ini. Yuliandre memberi contoh, “di Korea, episode drama paling banyak 16-22 episode, setelah itu diciptakan lagi judul baru. Sedangkan di Indonesia, satu judul sinetron bisa sampai ribuan episode. Kreativitas dalam industri penyiaran juga sangat diperlukan,” tuturnya.

Budiman Sudjatmiko, angota DPR RI 2009-2019 menambahkan, “Nadiem Makarim dulu membuat gojek, juga menggunakan imajinasi. Mencari cara Blbagaimana kita bisa hanya duduk diam, tapi ojeknya datang sendiri.” Ini memberi contoh bahwa di era artificial intellegent ini, manusia harus bisa berpikir cepat dan berpikir maju ke depan.

Namun, bagaimana kesiapan Indonesia menghadai era revolusi industri 4.0 ini? Reno Rafly, VP dari Kata.ai menyampaikan, “workforce Indonesia berada di urutan 60 di readyness skilss”. Artinya, dalam dunia kerja, anak muda di Indonesia masih berada pada urutan bawah dalam kesiapan skills digital di dunia kerja. Ia juga menekankan, kreativitas dan imajinasi sangat diperlukan untuk maju di dunia digital ini. Jangan sampai, manusia sekarang kalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang sekarang sudah bisa digantikan oleh artificial intelligent. The future is now adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan keadaan digital saat ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, anak muda Indonesia harus siap menghadapi hal ini.