Semangat KPI untuk Hadirkan Tayangan Ramah Anak

Semangat KPI untuk Hadirkan Tayangan Ramah Anak

Jakarta - Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Yuliandre Darwis mengatakan roda kehidupan terus berputar. Waktu akan berlalu seiring tenggelamnya sang fajar. Dalam hal ini,  Yuliandre melihat perputaran generasi bangsa pasti akan terjadi, estafet generasi bangsa adalah nyata adanya. Hal ini ia sampaikan pada sambutannya saat memberikan sambutan pembukaan acara Anugrah Penyiaran Ramah Anak 2019 yang diselenggarakan oleh Komisi Penyiaran Indonesia bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) di Gedung LPP RRI, Jakarta (25/7).

Menurut Andre, semangat dalam menjaga dan meningkatkan moral bangsa menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. “anak-anak adalah aset bangsa, dekati mereka dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Meningkatkan moral bangsa khususnya kepada anak-anak akan tetap terukir dalam jiwa kita semua,” ucap Yuliandre.

Secara khusus, Andre mengucapkan terimakasih kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dan lembaga Negara lainnya  perihal terselnggaranya acara anugrah penyiaran ramah anak

“Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) tidak pernah padam untuk juga ikut mengawasi konten ramah anak” ucap Andre

Dalam sambutannya, Andre mengatakan anak-anak merupakan generasi muda yang akan meneruskan cita-cita pendiri bangsa. Hal ini, kata Andre, momen atau pagelaran seperti ini menjadi penting untuk masyarakat luasa terutama pelaku industri media agar melakukan evaluasi bagaimana penyiaran dapat mempengaruhi sekaligus meningkatkan kualitas hidup anak Indonesia.

“Pengaruh yang paling besar dari media massa adalah melalui televisi dan radio. Saat ini, pengaruh televisi ikut menentukan perkembangan kualitas hidup anak Indonesia melalui konten siarannya. Survey Nielsen Consumer & Media View (CMV) tahun 2016 mengatakan penetrasi TV masih yang tertinggi, yaitu diatas 95% pada anak-anak dan remaja. Sedangkan penetrasi radio berada pada 20% keatas,” tutur Andre.

Andre mengambil contoh dari Newcastle University dan Queen Margaret University di Inggris, menonton televisi pada anak dimaksimalkan tidak lebih dari dua jam, karena akan memberikan dampak negatif pada anak yang mengonsumsi televisi berlebihan.

“Karena itu dengan waktu yang maksimal, menyiarkan informasi yang berkualitas, edukatif, memiliki value, dan menginspirasi anak-anak Indonesia untuk maju dan berkembang menjadi keniscayaan,” ujar Yuliandre

Data internal KPI Pusat juga yang diambil melalui Riset Indeks Kualitas Siaran Televisi 2018 menunjukkan bahwa indeks kualitas program anak pada layar kaca Indonesia ada pada rambu kuning angka 2.96, sedikit lagi menuju angka berkualitas.

Semangat untuk meningkatkan kualitas penyiaran untuk anak Indonesia sangat diperlukan dengan turut meningkatkan kualitas program siaran anak pada televisi. Anak-anak merupakan titik fokus besar bagi KPI demi generasi yang mempunyai moral dan mental yang baik.

“Sebagai regulator, KPI juga memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memberikan apresiasi terhadap program siaran yang bermutu.  Isi siaran juga wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, kontrol dan perekat sosial, serta memberi manfaat kepada masyarakat khususnya anak-anak dan remaja,” tegas Andre

Menurutnya, Anugerah Penyiaran Ramah Anak 2019 terdiri dari enam kategori penghargaan, yaitu Program Animasi, Program Feature/Dokumenter, Program Variety Show, Program Sinetron, Program Anak Radio dan Televisi Ramah Anak. Kegiatan ini harapannya dapat mendorong industri televisi untuk terus berkarya dengan menghasilkan program-program terbaik untuk kemajuan anak Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Lenny N.  Rosalin mengatakan keluarga sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang seorang anak.

Menurut Lenny, memunculkan kepedulian semua pihak untuk mewujudkan lingkungan yang berkualitas bagi anak. Dan arti penting peningkatan kualitas anak melalui pola pengasuhan yang berkualitas," kata Pribudiarta beberapa waktu lalu seperti dikutip Antara.

Lewat perlindungan dari keluarga, anak akan tumbuh berkualitas. Tentu saja, kualitas anak-anak akan menentukan Indonesia menjadi bangsa yang kuat atau lemah. "Anak gembira berarti tidak sakit. Ada unsur kecerdasan di dalamnya. Anak bisa belajar dengan riang," Pungkas Lenny N Rosalin yang hadir di kesempatan yang sama.